Belakangan ini, acara televisi paling popular di Amerika adalah Who Wants to Be a Millionaire. Sukses kilat ini tidak hanya terjadi Amerika, tetapi di seluruh dunia, dengan pembawa acara yang berbeda di berbagai negara. Yang harus Anda lakukan dalam acara tersebut, sudah barang tentu, adalah menjawab serangkaian pertanyaan tak penting, dan setiap kali menjawab dengan benar, Anda akan mendapatkan lebih banyak uang – hingga meraih satu juta dollar.
Tayangan ini juga mewarnai di salah satu televisi terkemuka di Indonesia dengan hadiah terbesar satu milyar rupiah. Pertanyaannya “Siapa yang mau menjadi seorang jutawan?” Mari kita akui bersama – dengan begitu banyaknya kegilaan orang terhadap acara-acara yang berbau uang, menjadi kaya raya, jutawan pasar modal, dan mendapat lotre yang sangat banyak, kita digiring pada pertanyaan, “Siapa yang tidak ingin menjadi seorang jutawan?” Sangatlah mungkin bagi siapa saja untuk memenangkan satu juta dolar AS atau pun satu milyar rupiah dalam sebuah acara permainan. Mungkin juga mendapatkan jutaan dolar dengan memenangkan lotre. Dan adalah mungkin menjadi seorang jutawan dengan melakukan investasi dalam sebuah IPO (initial public offering – penawaran saham perdana kepada publik).
Setelah itu, Anda bisa pensiun kaya selama sisa hidup Anda. Sebenarnya, dalam sejarah kita ada lebih banyak cara untuk menjadi kaya pada masa kini ketimbang pada jaman dulu. Mungkin itulah sebabnya muncul sebuah ‘kegilaan’ internasional tentang gagasan menjadi kaya – dan semakin cepat kaya akan semakin baik.
Ada banyak cara yang lebih baik untuk menjadi kaya, dengan kesulitan yang jauh lebih baik, tetapi kebanyakan orang tidak bersedia membayar harganya. Kenyataannya, ada beberapa cara untuk menjadi kaya yang kesulitan-kesulitannya justru terletak dalam diri orang yang bersangkutan. Kebanyakan orang tidak rela membayar harganya. Dan itulah sebabnya, menurut Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan Amerika Serikat, hanya 1 dari 100 orang yang benar-benar menjadi kaya raya, di negara paling kaya di dunia ini. Mereka semua ingin menjadi jutawan, tetapi tidak mau membayar harganya dan harga tersebut tidak selalu diukur dengan uang. Kalau kita melihat masyarakat kita, sebagian memandang hal ini sebagai sesuatu yang remeh. Kata mereka, “Yang penting kita bisa kaya dan punya uang banyak secara cepat (tanpa harus ber-istimroriyah (rutin) belajar berproses)”. “Yang penting halal dan baik produknya serta cepat prosesnya”, lanjut mereka. Sebagian besar tidak tahan dengan proses dan ini menunjukkan bahwa mereka tidak mau membayar harga untuk menjadi kaya.
Barusan saya mencoba melakukan survey ke sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bandung, sebagian besar mahasiswa menginginkan untuk berbisnis dan menjadi kaya. Tetapi sebagian besar mereka tidak punya wawasan serta dasar yang cukup untuk proses membangun bisnis dan menjadi kaya. Kalau mereka kita libatkan untuk bergerak memulai sebuah usaha/bisnis, keprofesionalannya sangat dipertanyakan dengan dalih kegiatan kemahasiswaan dan lain-lainnya.
Saya sangat menginginkan berbagi kepada Anda jawaban-jawaban dan harga yan telah saya bayar untuk menjadi kaya. Apabila Anda tidak menyukai jawaban-jawaban saya, ingatlah bahwa ada lebih dari satu cara untuk menjadi kaya … masih akan selalu ada lotre baru dan permainan baru yang melontarkan pertanyaan, “Who Wants to Be a Millionaire?”


