Oleh: muamalah | 21 f 2007

Who Wants to Be a Millionaire

Belakangan ini, acara televisi paling popular di Amerika adalah Who Wants to Be a Millionaire. Sukses kilat ini tidak hanya terjadi Amerika, tetapi di seluruh dunia, dengan pembawa acara yang berbeda di berbagai negara.     Yang harus Anda lakukan dalam acara tersebut, sudah barang tentu, adalah menjawab serangkaian pertanyaan tak penting, dan setiap kali menjawab dengan benar, Anda akan mendapatkan lebih banyak uang – hingga meraih satu juta dollar.
     Tayangan ini juga mewarnai di salah satu televisi terkemuka di Indonesia dengan hadiah terbesar satu milyar rupiah. Pertanyaannya “Siapa yang mau menjadi seorang jutawan?” Mari kita akui bersama – dengan begitu banyaknya kegilaan orang terhadap acara-acara yang berbau uang, menjadi kaya raya, jutawan pasar modal, dan mendapat lotre yang sangat banyak, kita digiring pada pertanyaan, “Siapa yang tidak ingin menjadi seorang jutawan?”     Sangatlah mungkin bagi siapa saja untuk memenangkan satu juta dolar AS atau pun satu milyar rupiah dalam sebuah acara permainan. Mungkin juga mendapatkan jutaan dolar dengan memenangkan lotre. Dan adalah mungkin menjadi seorang jutawan dengan melakukan investasi dalam sebuah IPO (initial public offering – penawaran saham perdana kepada publik).

Setelah itu, Anda bisa pensiun kaya selama sisa hidup Anda. Sebenarnya, dalam sejarah kita ada lebih banyak cara untuk menjadi kaya pada masa kini ketimbang pada jaman dulu. Mungkin itulah sebabnya muncul sebuah ‘kegilaan’ internasional tentang gagasan menjadi kaya – dan semakin cepat kaya akan semakin baik.
     
Ada banyak cara yang lebih baik untuk menjadi kaya, dengan kesulitan yang jauh lebih baik, tetapi kebanyakan orang tidak bersedia membayar harganya. Kenyataannya, ada beberapa cara untuk menjadi kaya yang kesulitan-kesulitannya justru terletak dalam diri orang yang bersangkutan. Kebanyakan orang tidak rela membayar harganya. Dan itulah sebabnya, menurut Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan Amerika Serikat, hanya 1 dari 100 orang yang benar-benar menjadi kaya raya, di negara paling kaya di dunia ini. Mereka semua ingin menjadi jutawan, tetapi tidak mau membayar harganya dan harga tersebut tidak selalu diukur dengan uang.     Kalau kita melihat masyarakat kita, sebagian memandang hal ini sebagai sesuatu yang remeh. Kata mereka, “Yang penting kita bisa kaya dan punya uang banyak secara cepat (tanpa harus ber-istimroriyah (rutin) belajar berproses)”. “Yang penting halal dan baik produknya serta cepat prosesnya”, lanjut mereka. Sebagian besar tidak tahan dengan proses dan ini menunjukkan bahwa mereka tidak mau membayar harga untuk menjadi kaya.

     Barusan saya mencoba melakukan survey ke sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bandung, sebagian besar mahasiswa menginginkan untuk berbisnis dan menjadi kaya. Tetapi sebagian besar mereka tidak punya wawasan serta dasar yang cukup untuk proses membangun bisnis dan menjadi kaya. Kalau mereka kita libatkan untuk bergerak memulai sebuah usaha/bisnis, keprofesionalannya sangat dipertanyakan dengan dalih kegiatan kemahasiswaan dan lain-lainnya.
     Saya sangat menginginkan berbagi kepada Anda jawaban-jawaban dan harga yan telah saya bayar untuk menjadi kaya. Apabila Anda tidak menyukai jawaban-jawaban saya, ingatlah bahwa ada lebih dari satu cara untuk menjadi kaya … masih akan selalu ada lotre baru dan permainan baru yang melontarkan pertanyaan, “Who Wants to Be a Millionaire?”

Oleh: muamalah | 21 f 2007

Membangun Pondasi Usaha dengan Sinergisme

     Jika Anda telah memulai membangun istana di udara, biarkan ia berada di tempatnya. Anda jangan terpengaruh dengan angin, matahari atau pun embun pagi, karena pekerjaan Anda itu tidaklah sia-sia. Sekarang Anda tinggal membuat pondasi di bawahnya dengan sinergisme, berani, optimis dan fokus pada cita-cita.
     Seorang imigran asal Iran yang bernama Ernest Hamwi berprofesi sebagai penjual kue wafel khas Iran. Pada acara World’s Fair tahun 1905, ia membuka gerai wafelnya. Ia bekerja keras dan memulai menjual dagangannya dengan membagi-bagikan secara gratis contoh kue-kuenya kepada setiap pengunjung yang lewat di depan standnya. Tetapi tampaknya semua usahanya tidak begitu menggembirakan. Tak seorang pun yang berminat untuk membeli kue-kue wafelnya.

     Lebih menyakitkan lagi, setiap harinya ia menyaksikan ribuan pengunjung berjalan melewati gerai wafelnya tanpa menghiraukan apa yang dijualnya. Mereka semua berbondong-bondong, bahkan sampai mengantri di depan gerai es krim yang letaknya cuma dua gerai dari gerai Ernest. Sungguh ia merasa iri melihat gerai es krim yang setiap harinya meraup banyak pengunjung dan yang pasti juga banyak uangnya.

     Tetapi, pada suatu hari yang cukup terik, Allah SWT memberikan ‘pembelajaran’ baru kepada Ernest. Hari itu rupanya gerai es krim kewalahan menghadapi serbuan pembeli. Sampai-sampai, pemilik es krim kehabisan piring. Karena sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, terpaksa ia menuju ke gerai wafel milik Ernest untuk meminjam piring tambahan.

     Ternyata Ernest pun tidak memiliki piring. Dia hanya memiliki banyak persediaan kue wafel khas Iran yang rasanya lembut dan manis. Tiba-tiba Ernest mendapat ide smart. Mengapa tidak digulung saja kue-kue wafelnya itu menjadi bentuk kerucut (cone).
Tentunya, dengan bentuk cone akan menjadi wadah es krim yang ideal. Ternyata, cone yang berbentuk seperti bel itu memang sangat cocok untuk dijadikan wadah es krim. Begitulah awalnya perkawinan antara es krim dan kue wafel.
     Cone es krim akhirnya berhasil menciptakan sensasi selama berlangsungnya World’s Fair di tahun 1905 itu. Sampai sekarang (satu abad) cone es krim masih menjadi makanan kegemaran banyak orang.
     Pada kenyataannya, kisah mengenai es krim dan cone nya Ernest Hamwi merupakan contoh yang sesuai dengan konsep sinergisme. Yang dimaksud dengan sinergisme adalah perkawinan atau gabungan dua buah konsep yang berbeda, yang menghasilkan sesuatu yang jauh lebih hebat dibandingkan kalau komponennya bekerja sendiri-sendiri.
     Coba Anda bayangkan sejenak. Bagaimana seandainya Anda diminta untuk menciptakan sinergisme paling hebat untuk menciptakan kekayaan. Sinergi itu haruslah mudah diduplikasi, sehingga setiap orang dapat dengan mudah menirunya. Harus terjangkau, sehingga setiap orang bisa ikut serta. Harus tumbuh secara eksponensial dan bukannya linier. Harus mudah diperoleh dimanapun dan kapanpun serta masih banyak yang harus ditawarkan untuk kemudahan banyak orang.

     Saya ingin sampaikan kabar gembira kepada Anda. Sinegisme yang sempurna seperti gambaran di atas, ternyata sudah ada dan bisa Anda peroleh. Konsep yang saya sebut sebagai sinergisme paling hebat, yaitu Smart Marketing. Smart Marketing ini tidak lain merupakan konsep sinergi yang luar biasa dan brilian. Gabungan dari bentuk corporate, franchise dan network marketing.
* Direktur Utama PT. Citra Niaga Abadi (Perusahaan Smart Marketing terkemuka di Indonesia)

Oleh: muamalah | 17 f 2007

Menciptakan Kekayaan Sejati

     Seorang pelawak kawakan bernama Joe E.Brown sering berceloteh, “Kalau untuk menunjukkan bahwa Anda orang kaya, Anda harus mengatakannya kepada banyak orang, berarti Anda belumlah benar-benar kaya”. Celotehan ini sangat sederhana tetapi sarat makna dan realistis.
     Mendapatkan kebebasan karena memiliki penghasilan tetap menjadi idaman banyak orang. Ada dua jenis penghasilan yaitu penghasilan tetap dan penghasilan sementara. Penghasilan tetap sering juga disebut penghasilan residual (penghasilan yang akan terus diperoleh setelah kita bekerja sekali saja). Penghasilan sementara sudah sangat jelas maknanya. Orang yang berpenghasilan sementara ini ada pada kuadran para pekerja (employee) atau pegawai dan small business.

     Menciptakan penghasilan sementara merupakan jebakan bagi waktu kita. Maka solusi untuk mendapatkan penghasilan tetap adalah menciptakan kekayaan sejati. Penciptaan kekayaan sejati sangat berbeda dari penciptaan penghasilan sementara, karena tidak dibatasi oleh sistem barter waktu dan uang. Konsep yang dipakai di sini disebut dengan konsep efisiensi. Pada kenyataannya, satu-satunya cara untuk memperoleh pencapaian kondisi kaya sejati adalah kalau kita bisa mengefisiensikan waktu, uang dan usaha Anda. Dengan cara ini, kalau kita bekerja 10 jam, kita akan mendapatkan penghasilan seolah-olah kita telah bekerja selama 100 jam atau bahkan 1000 jam.

     Imam Hasan al Banna menyampaikan kepada kita tentang waktu, “al waktu huwal hayat” artinya waktu itu adalah hidup kita. Hal ini lebih tinggi maknanya dibandingkan dengan ungkapan “time is money”. Walaupun begitu bila kita kaitkan dengan efisiensi, saat ini ungkapan tersebut semakin jelas serta mengandung kebenaran. Memang benar kita semua TIDAK memiliki jumlah uang yang sama. Tetapi yang jelas, kita semua MEMILIKI jumlah waktu yang sama dalam hidup.

     Yang saya tekankan di dalam tulisan saya ini BUKAN cara-cara menginvestasikan uang Anda untuk menciptakan kekayaan sejati, melainkan bagaimana cara menginvestasikan waktu Anda untuk menjadi orang kaya sejati. Masalahnya, waktu itu akan berarti uang hanya kalau kita bisa menginvestasikannya secara benar. Dari Milyuner sampai pengemis, semua manusia sama-sama mempunyai waktu sebanyak 24 jam sehari, 168 jam per minggu, 672 jam sebulan dan 8064 jam setahun.

     Karena itu, kekayaan sejati tidak mungkin diperoleh dengan menciptakan tambahan waktu. Tetapi, kuncinya adalah kita harus memanfaatkan semaksimal mungkin waktu yang kita miliki.

     Kita sering beranggapan bahwa menjadi kaya sejati itu terjadi karena nasib saja. Kita mengira bahwa kondisi kaya sejati itu hanya akan bisa diperoleh oleh orang-orang yang berbakat, orang-orang yang bernasib baik dan bukan untuk orang-orang yang biasa-biasa saja seperti saya dan Anda. Saya tegaskan disini, bahwa anggapan seperti itu adalah merupakan KEKELIRUAN YANG SANGAT BESAR.

     Alasan yang paling kuat mengapa kebanyakan orang tidak bisa menciptakan kekayaan sejati, adalah karena mereka tidak sadar bahwa sebenarnya ada sistem penciptaan kekayaan yang bisa ditiru.
Dengan kata lain, kebanyakan dari kita sekarang ini meniru sistem yang salah. Karena kita tidak sadar bahwa ada sistem penciptaan kekayaan yang bisa ditiru, yang kita lakukan hanyalah meniru apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Yaitu, melakukan pekerjaan yang dijalani kebanyakan orang. Kalau kita melakukan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang, sudah tentu kita pun akan mendapatkan penghasilan yang sama dengan kebanyakan orang.
     Sebetulnya Anda tidak akan pernah bisa menciptakan kaya sejati, kalau Anda masih saja meniru sistem penciptaan penghasilan sementara. Sebabnya adalah karena sistem penciptaan penghasilan sementara berlandaskan pada pertumbuhan linier yang berbeda sekali dengan penciptaan kekayaan sejati yang berlandaskan pada pertumbuhan eksponensial.

Oleh: muamalah | 17 f 2007

KECERDASAN FINANCIAL

Uang bukan segalanya meskipun segalanya perlu uang, demikian sebagian orang berkomentar. Uang adalah salah satu instrumen material paling emosional dalam kehidupan. Sebagian besar orang rela mengorbankan hal-hal yang jauh lebih berharga dari uang untuk mendapatkan uang. Dalam masyarakat, uang adalah sumber potensial yang sering dihubungkan dengan kesusahan dan kesenangan. Uang seringkali digunakan mengukur kualitas hidup untuk memperjelas perbedaan antara yang kaya dan yang miskin.     Beberapa orang mencoba menghadapi uang seakan berpura-pura tidak perduli, tapi tekanan finansial seringkali menampakkan warna asli sepanjang hidupnya. Terutama orang dewasa, kekurangan uang sering diterjemahkan sebagai kekurangan segala-galanya. Untuk beberapa orang, uang merupakan misteri. Bagi yang lain, uang sumber nafsu, kebanggaan, rasa iri, bahkan kerendahan. Mana yang benar? Apakah itu wujud impian dan akar dari segala kejahatan? Sumber kebebasan, kekuasaan atau rasa aman?
     Secara intelektual, kita semua tahu bahwa uang digunakan sebagai alat tukar. Tapi, banyak orang menyikapi uang lebih dari itu. Bahkan banyak yang membuat kesalahan dengan berpikir bahwa semua kesulitan dalam hidup akan hilang jika punya cukup uang.

     Mengapa dalam suatu negara banyak orang gagal menjadi kaya, sementara peluang dalam sumber daya tersebar dimana-mana? Ketika saya mencari kunci membangun kekayaan yang dapat bertahan, ada satu hal yang menjadi sangat jelas yaitu “menciptakan kekayaan itu mudah”. Tapi, sebagian orang tak pernah membangunnya karena memiliki kelemahan paradigma tentang uang. Hal ini dapat ditemukan dalam bentuk nilai internal dan konflik keyakinan, serta rencana yang lemah dan tanpa sadar terus memperburuk paradigma finansial.

Oleh: muamalah | 17 f 2007

Menjadi seorang pengusaha suskes

Pengusaha sukses adalah seorang yang ingin menjadi sukses dalam usahanya walaupun ia belum sukses dan masih menjalaninya . Ada beberapa faktor yang menunjang untuk menjadi seorang pengusaha diantaranya :q       Ilmu Ilmu dapat diperoleh dengan berbagai cara bisa dengan sekolah atau pun dari interaksi kita dalam kehidupan sehari-hari dan ilmu yang penting dalam menjalankan usaha adalah harus menguasai acconting.q       On Job Training dalam usaha yang akan kita geluti guna mempelajari, melatih, meningkatkan pengetahuan kita akan bisnis yang akan diambil.Tahapan mencapainya :1.       Keberanian untuk memulai usaha. Keputusan untuk berani memulai usaha sangat penting. Kalau tidak pernah berani memulai maka tak pernah ada usaha yang kita miliki .Mulailah dengan lanhkah pertama yang sederhana. Tentunya akan kita jumpai berbagai persoalan yang terkandang terasa berat untuk dijelaskan, tapi yakinlah untuk terus menjalankan bisnis walaupun harus sesekali terjatuh, layaknya kalau kita sedang belajar berjalan diwaktu kecil.2.       Berani mengambil resikoSemua bisnis tentunya memiliki resiko bagai hidup itu sendiri yang bisa akan hidup atau mati. Namun dalam bisnis resiko tersbut adalah untung atau rugi.Kebanyakan dari kita hanya siap menghadapi untung dan tidak siap untuk rugi. Yang terpenting dari seorang pengusaha adalah harus siap untuk kedua-duanya atau hal yang terburuk dalam bisnisnya.3.       SabarMenjalankan bisnis harus dilandasi oleh sikap sabar. Menanam modal dalam berbisnis tidaklah sama dengan bermain lottere. Bisnis harus dijalankan dengan ketekunan, kesungguhan, kedisplinan, kejujuran dan sifat sabar. Sabar dalam menghadapi segala persoalan dalam menjalankan bisnis tersebut. Semua itu memerlukan waktu berupa sifat sabar yang belipat. Sabar menunggu keuntungan dan sabar dalam menghadapi persoalan.4.       Optimis Sebagai seorang pengusaha tidak boleh sedikitpun terbesit sifat pesimis, harus ditanamkan sifat optimis . sifat optimis harus menjadi sikap, perilaku dan tutur kata didalam menjalanka bisnis.5.       Belajar dari pengalamanJadikan kegagalan dalam bisnis kita menjadi pelajaran untuk perbaikan kedepan dan jangan  pernah berhenti6.       Perluas jaringan Dalam bisnis jaringan adalah modal terbesar didalam menajlankan roda bisnis.  Kiat praktis menjadi seorang pembisnis akan tetapi sebelum kiat melangkah kesana ada 4 mitos yang menghambat kita untuk menjadi pembisnis :1.       Kita buka dari keturunan pebisnis seperti misal orang cina, yahudi, padang. Jadi sebenarnya siapapun bisa menjadi pembisnis.2.       Harus ada bakat, yang benar adalah harus ada tekad dan kemauan3.       Bisnis ada resiko yang membuat kita takut dari berbisnis, kita lebih suka menjadi pegawai negeri atau swasta walaupun modalnya besar untuk memperolehnya. Tapi kita lihat berapa penghasilan seorang pengusaha yang mengaji seorang DR misalkan. Jadilah kita orang yang memgaji orang 4.       Bisnis harus ada modal, yang benar adalah bisnis dari yang kita miliki apapun sekarang q       Jadi, mulailah jadi pembisnis mulai sekarang dan mulai dengan apa yang kita miliki apapun !q       Bisnis harus Fokus, apa yang menjadi bisnis kita tidak semua dilakukanq       Bisnis harus ada yang dijual bisa jasa atau barangq       Bisnis harus ada tempat jadi cari tempat bisa punya sendiri atau sewaq       Jangan mahal dan harga harus wajar q       Buat marketing yang bagus dengan perencanaanq       Pakai Merk cukup 1-2 kata q       Pasang Merkq       Buat kartu nama q       Buat jaringan Dari beberapa uraian diatas ada yang sangat penting untuk diperhatikan dan itu merupakan kunci sukses kita dalam berbisnis yaitu kondisi ruhiyah kita apakah sebanding dengan usaha kita bagaimana amalan harian kita, puasa kita, qiyamulail kita, infaq kita dll. Jadi jangan salahkan bila kita sudah berusaha keras dalam bisnis tapi rezeki kita masih seret, karena pada hakekatnya Allah lah yang berkehendak terhadap hambanya apalagi kita adalah seorang muslim. 

Kategori